Ternyata pada akhirnya, Allah pun akan menaruhku (lagi dan lagi) di titik Nol. Titik terendah dimana Aku (sudah pernah) ngerasain rasa kesepian teramat dalam, ngerasain rasa sendirian tanpa tepi, ngerasain rasa sakit yang sedalam jurang neraka, dan serendah-rendahnya martabat diri seorang anak perempuan yatim-piatu, yang dihinakan oleh seorang wanita tua ber-anak 3.
Dan kini, diriku kagum pada diri sendiri. Sudah tidak marah lagi ke Allah, pada semesta. Karena aku sudah dititik LELAH TERTINGGIKU untuk ngerasain itu semua. Bukan, bukan soal "kemelekatan ataupun ketergantungan terhadap manusia, makhluk hidup maupun harta benda. Lebih tepatnya karena memang pada kenyataannya aku memang sudah lama tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa.
Sekalinya pun kini di kehidupan nyata aku hanya punya suami, dia pun adalah orang yang sudah membuatku ke titik terendah diriku di dalam pernikahan.
Jadi kini aku memang tidak menaruh harapan, impian, keinginan, bahkan hingga untaian ribuan doa apapun juga tidak aku lantunkan di tengah-tengah rumah tangga yang aku jalani. Karena bagiku, di usiaku sekarang, saat ini, aku memang sudah tidak punya apa-apa. Tidak ada yang bisa aku banggakan, tidak ada yang bisa aku rangkul, tidak ada yang bisa aku hubungi, tidak ada yang bisa aku sapa. Mereka yang seharusnya melindungiku, malah meracuniku dengan racun yang merusakku dari dalam.
Begitupula sebaliknya, tidak ada orangtua yang menanyakanku hari ini masak apa, tidak ada yang menyapaku hari ini makan apa, atau sekadar menanyakan aku jalan-jalan kemana. Karena memang sejatinya tidak ada.
Aku sudah belajar (dan masih belajar) memposisikan diriku untuk "tidak ada apa-apanya" yang menempel di diriku, yang melekat di diriku.
Aku hanyalah anak yatim-piatu yang sudah dibontang-banting oleh perjalanan semesta dengan kehendak Allah. Maka dari itu, semua-muanya membuatku sudah menyerahkan hidupku semata-mata hanya kepada Allah (Sang pemilik diriku yang sesungguhnya).
Yahhhh... qodarullah-nya saja aku masih diberi nafas. Itu berarti pikir pendekku, masih ada tugas diriku yang harus aku jalankan di dunia.
Sekarang aku hanya menjalani hari demi hari, satu persatu saja. Jika waktunya tidur malam, ya sudah tidur pejamkan mata. Urusan besok aku bisa membuka mata kembali ataupun tidak, sudah aku pasrahkan pada Allah. Yang terpenting, aku akan berusaha sekuat tenagaku, selama aku diberi nafas, aku tidak akan merepotkan, menyusahkan, membebankan diriku pada orang lain (semoga Allah mendengar harapanku ini).
Aku sudah di titik, jika aku masih bisa jalan sendiri, aku akan jalan sendiri.
Aku sudah di titik, jika aku masih bisa lari sendiri, aku akan lari sendiri.
Aku sudah di titik, jika aku masih bisa mengurusi diriku sendiri, aku akan urusi sendiri.
BUKAN. Bukan karena aku egois apalagi tidak butuh orang lain, tapi karena memang di kala aku butuh orang lain, orang lain itu tidak hadir. Aku hanya bisa meratapi sendiri kesendirianku, kesepianku. Mereka akan datang padaku sesuai kebutuhannya.
Aku sama sekali tidak menyalahkan mereka yang datang saat ada butuhnya (saja).
Aku sadar, mereka tidak salah kok. Toh, ya Allah kan yang mendatangkan mereka, menggerakan hati mereka untuk datang padaku dengan segala bentuk keperluannya.
Ya sudah, Allah yang menggariskan. Aku bisa apa.
Yang aku bisa kala itu, saat itu, ya membantu mereka, hadir untuk mereka, se-maksimal yang aku bisa. Sisa-nya, jika memang tugasku sudah selesai (di mata Allah) ya selesai. Aku akan pulang, akan duduk diam lagi, men-cas kembali "energiku" yang sudah keluar, agar energiku terisi ulang.
Aku sudah bukan siapa-siapa, bukan dari sekarang, tapi sejak Allah membuatku babak-belur di tangan mereka (Oktober 2021). Kala itu hidupku sudah hancur di tangan mereka ; mertua dzalim (mereka : orang-orang yang seharusnya melindungi mental & fisikku), justru malahan mereka yang menyakiti mental dan fisikku hingga lebam-lebam kehitaman berbulan-bulan hingga membuatku Depresi dan sudah tidak ingin hidup di dunia.
Kala itu, aku hancur di tangan mereka. Semua Doa-doa baikku akhirnya runtuh. Membuatku berhenti detik itu juga untuk menghentikan "Doa baik" yang sangat aku harap-harapkan.
Aku hanya bisa terbujur diam di sofa berdebu di sebuah rumah yang sudah lama kosong. Badanku terasa sakit semua, sama hal-nya dengan batinku yang menjerit, hatiku yang seperti dicabik-cabik, dan jiwaku yang mati rasa, disebabkan perbuatan dzalim mereka bertiga pada diriku dan badanku.
Aku hanya tergolek lesu sendirian. Untuk berjalan pelan pun sudah tidak bisa. Boro-boro berdiri, sedikit duduk tegak di senderan sofa pun rasanya Allahu' Akbar sakitnya. Aku masih sangat ingat dalam pikiranku, bahkan aku tidak bisa makan, tidak sanggup untuk makan.
Bahkan hingga se-sepele ingin buang air kecil ke toilet pun, aku hanya bisa menyeret badanku yang lemah dan kesakitan, amat-sangat pelan aku memindahkan tubuhku ubin demi ubin untuk menuju ke kamar mandi.
Membuka celana pun aku menjerit kesakitan sendirian, melihat lebam itu bersemayam besar di badanku membuatku makin menangis histeris. Hingga usai pun, aku masih harus menyeret tubuhku sedikit demi sedikit, ubin demi ubin untuk kembali menuju sofa berdebu itu.
ya, TRAUMA itu... LUKA itu...
Berhasil membuatku hancur bukan lagi berkeping-keping. Tapi hancur hingga aku sudah tidak sanggup memandang diriku ini layak untuk bersemangat melanjutkan hidup.
Mereka, 3 orang manusia dengan dzalim & liciknya bersekongkol membohongiku hanya karena mereka "panas hati" (menginginkan aku memberi keturunan) hingga menjadikan aku "kelinci percobaan" seorang dukun iblis!.
Mereka, 3 orang yang sepatutnya menjaga badanku, diriku, fisikku, hatiku... justru mereka yang menabur luka paling busuk di sepanjang perjalanan hidupku, hingga yang aku inginkan saat itu adalah aku menyusul kedua orangtua-ku saja ke liang kubur.
Mereka, 3 orang yang sudah aku serahkan kepada Allah.
Sungguh sebelumnya tidak pernah dalam hidupku mengucapkan, menguntaikan doa buruk. Tapi ternyata, mereka telah berhasil membuatku mengucapkan seburuk-buruknya doa yang satu-satunya hanya aku ucapkan khusus untuk mereka.
Sajadahku-lah sebagai saksi bisu tangisanku teramat dalam, saksi airmataku menangis dengan sedalam-dalamnya jurang neraka. Hingga aku di titik sekarang ini, titik dimana aku hanyalah seorang hamba Allah yang sudah (pernah mati) dalam hidup.
Halo. Dan sekarang, ini aku.
Yang tidak jadi apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Masih pelan-pelan berusaha "merangkak" untuk bisa hidup (normal) kembali dengan sisa-sisa nafas yang masih Allah beri.
Aku sudah tidak menginginkan apapun, sudah tidak minta apapun.
Aku hanya jalani yang ada di depan mataku, 24 jam saja, untuk esok hari ya itu urusan esok hari Allah mau membawaku kemana. Aku tidak punya siapa-siapa, aku bukan siapa-siapa, aku tidak meminta apa-apa dan aku tidak berharap apapun.
Yang aku (coba) belajar yakini sekarang hanya 1 :
"Jika Allah masih memberikan nafas hari itu, berarti hari itu, aku masih diberi tugas untuk hidup. Selebihnya, esok harinya, terserah Allah akan menjemputku kapan".
Karena bagiku sekarang, yaa memang aku tidak ada kesiapan untuk mati. Tapi di keyakinanku kini, bagiku... tujuan hidupku sekarang adalah hanya ibadah sembari menunggu mati.
Semoga Allah, selalu membimbing di setiap langkahku yang sudah tidak utuh ini.





























