Top Social

Featured post slider

PART 4 : GAJAH TERKUAT

Tuesday, June 23, 2026

 

Part 4 : Gajah Terkuat

Lelah sekali hari ini. Nampaknya sesak di dadaku beum pulih jua. Api yang terasa membakar seperti semakin membesar. Apalagi saat kedatangan wanita itu di sebuah waktu yang singkat kebelakang.

Sosoknya sudah membuat hidupku seperti neraka. Aku membayangkan dia seperti manusia yang tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Berperawakan biasa tapi dengan mahkota duri yang terpasang di kanan-kirinya. Seolah-olah mahkota itu berkata bahwa kehadirannya menjadi Malaikat pencabut nyawaku yang hanya satu ini, inipun sudah tercabik-cabik habis-habisan. Lebam-lebam bekasku yang masih jadi luka menganga, ia sembur lagi dengan sebuah jerigen berisi minyak panas. Setiap satu huruf yang ia keluarkan dari mulutnya adalah bak semburan api dari neraka yang membakar setiap lapis tubuhku, satu demi satu. 

Selamat wahai dirimu, kamu adalah seburuk-buruknya wanita yang datang di kehidupanku saat aku sudah berdarah-darah mengobati tubuhku yang bercucuran airmata. Dan kini kamu hujamkan luka baru disekujur tubuhku hingga aku berharap MATI secepat kilat dan tidak terbangun untuk selamanya. Kamu bukanlah Malaikat, kamu pula bukanlah penjaga gerbang maut. Tetapi dirimu, dirinya adalah Sang Ratu dan Raja pemegang kerajaan bara api di sepanjang perjalanan hidupku. Akan aku catat sebagai hutang kafarah yang kelak mereka tuai di masa mendatang.

Tahu tidak, kalau aku terlahir dari tangan keajaiban Tuhan. Aku lahir hanya sebesar genggaman jari-jemari Ayahku. Di sepanjang hidupku, aku sampai hidup hanya bak manusia hologram yang sejatinya tidak hidup dengan nyata dan bisa menghilang, lenyap dengan satu kali tekan. 

Tuhan…….

Apakah Engkau tahu……. Kalau saat ini aku sudah tidak membutuhkan manusia. Aku sudah tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun. Aku sudah berharap tidak di tolong, karena seribu tahun pun aku hidup pertolongan manusia bagiku hanya palsu. Se-palsu hadirnya wanita perusak hidupku. Sampai-sampai berpijak dengan benar pun aku tak bisa. Seringkali badanku akan limbung terjatuh tanpa kusadari. Seolah nafasku sudah tidak bisa menjaga jantungku dengan detak yang benar.

Coba perlahan aku cari dengan teliti isyarat apa yang badanku rasakan? Oh ternyata isyarat itu tak lain tak bukan adalah lonceng kematianku yang makin mendekat. Aku sudah tidak perlu lagi berteriak kencang menanti sangkakala maut datang menyapa, aku tidak perlu lagi menyiapi tali-temali panjang yang menyambutku di teras akhirat. Karena yang aku yakini sekarang hanyalah berhenti bernafas dengan sebaik-baiknya tempat yang indah.

Tidak. Aku tidak akan merindukan mereka. Aku tidak akan merindukan siapapun. Entah itu manusia maupun setengah manusia. Yang aku mau hanya sendiri, di sebuah taman luas tanpa manusia, di depannya terdapat bentangan danau tidak terlalu luas tapi dengan riakan air yang tenang. Hingga aku bisa dengan sangat jelas mendengar sayup-sayup suara kicauan burung dari kejauhan. Ada beberapa rusa berloncat-loncat dibalik batang pepohonan cemara yang rindang, 3 ekor kelinci yang berloncat kecil dibalik rerumputan pendek, 5 kupu-kupu bersayap cantik belang berwarna indah yang terbang diatas kepalaku dan beberapa sedang beristirahat diatas sekelompok bunga tulip yang mekar cantik, dan tak lupa 10 ekor kucing berkeliaran, bermain gembira di sekitarku.

Semoga sakitku kelak akan menjadi api yang membakar mereka. Dua insan penuh kepalsuan, yang tidak akan padam api itu. Semoga Malaikat pun meng-amin-kan doaku, bahwa kelak…. hutang sakit yang aku rasakan, akan sama persis mereka rasakan. Hingga sampai di titik mereka berharap menghilang sirna.

Aku bukan wanita yang menjadi naungan siapa pun, tapi aku akan menjadikan diriku “pelajaran” bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang fana ini. Aku tidak akan berkutik, biarkan “Mereka yang menabur, mereka pula yang akan menuai dosa”.

Ah sudahlah. Aku hanya perempuan tenang yang sudah dicelup lautan airmata. Jikalaupun Allah membiarkan diriku melewati semua ini, yang aku yakini hanya 1 : “Tuhan tahu seberapa kuat pundakku merasakan ini semua, dan bila waktu itu tiba…. akan aku sambut dengan gegap-gempita kemenangan yang sudah Allah persiapkan untuk sisa hidupku yang tidak seberapa-lama lagi”.

Hidupku tidak sepanjang yang dibayangkan. Dan matiku tidak sependek yang mereka sangka-kan. Umurku tidak lama lagi, Rabb. Yang kini aku pegang adalah sebuah kain lusuh berwarna biru tua bergambar gajah. Ya, sesosok hewan ciptaan Tuhan berbadan besar, berjiwa kuat dan dikagumi. Aku adalah ibarat seekor gajah. Tidak nampak kekuatannya, tapi aku ada. Dan sang penjaga langit pun mengawasi setiap tetes airmataku.


PART 3 : BURUNG GEREJA

 


Part 3 : Burung Gereja

Kembali diriku berdiri dan melangkahkan kaki ke balik sebuah pintu. Sungguh sulit sekali di awal untuk pintu itu terbuka. Tapi pada akhirnya aku bisa jua membukanya dengan sekuat tenaga. Tidak ada kehangatan yang aku rasa, hanya keheningan yang menyelimutinya.

Taukah kamu, kalau seseorang bertanya dalam hatinya, maka Tuhan-lah yang akan menjawabnya melalui sanubari dirimu?

Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku sudah tidak tahu-menau apa yang harus aku perbuat. Ramai sekali terkadang isi kepalaku, hingga aku sulit menerka mana suara hatiku dan mana suara hati kiriman dari Tuhan. Yang aku bisa lakukan sekarang hanya duduk di kursi tamanku, mencoba memandang kejauhan dengan pemandangan sebuah pohon tabebuya yang tertancap kokoh hasil bertahun-tahun aku siram dan kurawat.

Diriku yang tidak tahu ini mencoba memaksa menerka-nerka apa yang mau Tuhan kirimkan pada diriku yang rendah dan tidak bernilai ini. Seperti energi gelap dari ruangan temaram yang dihuni gadis kecil itu sudah mengisi seluruh kekosongan jiwaku kini, hingga membuatku sulit berkata dan bersuara.

Siapa Aku? Bahkan aku coba menyapa pun, aku juga sudah kehilangannya, kehilangan jiwa yang sejatinya Allah tiupkan Ruh bernyawa. Hanya saja disayangkanya Allah masih memberiku oksigen untuk bernafas, dan fisik kaki-tanganku bisa bergerak normal. Tapi langkah kakiku sudah memberatkan jiwaku yang seperti orang koma. Yang lambat-laun sudah tidak ada lagi keinginan untuk hidup dan di hidupkan. Semua suara diluar seperti suara teriakan nyaring manusia-manusia tidak bertulang. Sangat menyakitkan hingga aku pun sudah tidak tahan lagi. Berisik sekali telingaku, kosong sekali batinku. Hingga aku tidak mampu lagi mendengar suara Tuhan berbisik.

Keadaanku mati rasa, apalagi saat mengetahui hidupku di mati-kan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi diriku. Aku benci menjadi diriku seutuhnya. Bahkan aku harus menghafal kembali bentuk setiap lekukan wajahku yang sudah aku lupa. Bercermin pun aku sudah tidak sanggup, yang aku rasakan seperti neraka di dunia, aku sudah tak sanggup lagi berkata “YA maupun TIDAK”.

Nafasku terkadang tiba-tiba akan terengah-engah. Kedua jari-jemari kanan kiriku akan gemetar hebat, tidak bisa ku kendalikan, dada amat terasa sesak seperti ada hujaman pedang yang menembus dibalik punggung belakangku dan sekalian sebuah belati perak tajam menusuk dari arah depan dadaku. Semua badanku seperti serempak berteriak, “AKU HANCUR….”. 

Lihat, wahai diriku! Di depan sana. Ahh aku tetap tidak bisa melihat jelas. Semua terasa seperti embun kabut sehabis hujan yang menutup jarak pandang. Walau aku mencoba sepasang kacamata bening dengan kemampuannya melihat jarak jauh, aku masih tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semuanya terasa kabut putih buram yang ya sesekali hanya nampak seperti bayangan abu-abu sebuah gedung menjulang tinggi di kejauhan yang terlihat samar. 

Aku mencoba menengadahkan kepalaku memandang keatas langit. Langitnya terlihat tidak terlalu cerah tapi cukup bercahaya. Ada semburat sinar matahari memecah awan perak kelabu diatas, sehingga sedikit bayang-bayang matahari menghangatkan tubuhku yang sudah tidak sekuat dulu. Aku hanya duduk diam memandang langit diatas sana. Ada serombongan buruk gereja yang terbang memutar arah, mereka bak sekawaaanan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran tetapi bukan di taman, melainkan di udara. Ahhh sungguh indah kehidupan mereka, tidak memusingkan hidup, cukup terbang mengikuti arah angin dan mengikuti insting musim untuk berpindah tempat.

DIRIKU. Duduk di sebuah kursi taman, mengenakan celana panjang lurus berwarna abu-abu muda yang kainnya terasa lembut dan tipis sehingga nyaman dikenakan. Atasannya memakai sebuah kaos semi-longgar bergaris hitam-putih dibawah perut dan dilapisi jaket putih dengan rajutan tidak rapat berwarna broken white minimalis dan tidak dikancing. Kedua kakiku tidak beralaskan apa-apa, hanya terlipat saling tumpang atas-bawah yang penting aku nyaman berlama-lama memandang langit.

Kamu tahu….. saat aku terduduk santai sembari memandangi langit diatas kepalaku, yang tersirat aku mau hanya satu, yaitu ‘Jam Pasir’! Jiwaku seperti ingin menghapus semua masa laluku dengan 1 balikan jam pasir itu. Aku ingin sekali saat pasir itu habis di satu balikan, maka semua penderitaanku sirna sudah, orang-orang yang berada di cerita hidupku bisa menghilang sejentikan jari illahi. Dan aku tidak kembali menjadi jati diriku yang sesungguhnya, tapi saat jam pasir selesai habis satu balikan, aku akan berubah menjadi anggota burung gereja yang aku lihat beberapa menit yang lalu.

PART 2 : QUIET IS THE NEW LOUD

 


Part 2 : Quiet is the new loud

Salah satu bagian menyakitkan bagiku adalah “KEHILANGAN”. Oh tentu saja, dengan makna berbeda dan pengalaman beragam. Selama aku masih diberi nafas oleh Tuhanku, kehilangan sudah menjadi makanan utamaku. Aku sudah seperti kehilangan jiwaku.

Kehilangan yang aku jalankan tidak melulu seperti hal-nya kehilangan suatu benda dan bisa diganti. TIDAK. Aku kehilangan diriku, sejak Tuhan menaruhku di dunia. Rasa kesepian, kosong yang aku punya membuatku seperti anak kecil yang lebih damai dan aman bila menangis di kolong tempat tidur sembari mendekap secarik foto wanita dewasa berkebaya.

Rasa-rasanya aku seperti dihadapkan pada 4 pilihan : Hidup tapi Mati di dalam, Mati tapi Hidup diluar, Hidup yang dipaksa untuk Hidup diluar, serta Hidup yang terasa Mati di dalam. Keempat-empatnya sangat tidak aku suka. Semua pilihan itu tidak aku inginkan. Keempat-empatnya pula tidak ingin aku jadikan perjalanan hidupku ke depan. Bahkan hingga kini aku puluhan tahun hidup pun bertanya-tanya dan masih diberikan nafas oleh tubuhku.

Pernah sesekalinya aku berusaha bernafas dengan irama satu - dua - tiga - huffff hiduplah. Tapi semakin aku ikuti ritme nafas itu, justru malah membuatku ketakutan. Hatiku terasa seperti ada angin gelap menderu pelan dibalik kesunyian. Aku (lagi-lagi) seperti seorang anak kecil, mengenakan daster putih polos sepanjang lutut dengan lengan ⅞ dengan ujungnya kerutan berkaret setengah longgar. Rambutku yang sebahu dengan bentuk keriting menggantung, berjalan di lorong gelap, yang di semua sisi kanan-kiri koridornya terdapat berbagai pintu terutup. Aku, sang anak kecil itu berjalan perlahan tanpa alas kaki, memegang sebuah tatakan kecil yang diatasnya menempel sebuah lilin yang menjadi satu-satunya lampu penerangan di lorong gelap itu.

Angin dingin terasa bertiup dari arah belakang lorong hingga menembus setiap ruas punggung kecilku, masuk ke sela pori-pori kain daster putihku, sedikit membuatku bergidik, tapi langkah kaki kecilku sama sekali tidak bergeming. Aku dengan teramat pelan, satu-persatu mendekatkan piring kecil berataskan lilin itu untuk mendekati satu demi satu daun pintu. Daun telingaku aku tempelkan dengan sangat dekat ke setiap daun pintu yang menjulang kokoh dan sangat tinggi. Aku dekatkan badan kecilku menempel perlahan, agar aku bisa mendengar dengan sedikit jelas, atau bila aku beruntung aku bisa mendengar dengan jelas suara-suara apa yang berada di balik daun pintu yang menjulang kokoh tersebut.

Dengan sekitar lorongnya gelap dan hanya satu buah lilin yang menerangi lorong yang panjang itu, terkadang aku menemukan suara orang-orang tertawa riang gembira, ada pula suara seseorang yang mengerang kesakitan, suara sebuah alunan musik klasik yang terasa menyedihkan, suara angin yang membuka-tutup sebuah jendela hingga terdengar jelas derit kayu daun jendela yang tersingkap angin, ada juga suara anak-anak laki dan perempuan yang bermain, bersenda-gurau, ada juga suara anak lelaki yang memegang mainan kereta-keretaan sembari sesekali membanting-bantingkan mainan lainnya dari bahan kayu.

Ohhh….. sungguh lelah diri kecilku itu untuk coba mengetuk satu-persatu pintu besar itu, mencoba mengintip dibalik lubang kunci, hingga mendengar bisikan lirih seorang anak kecil yang berkata, “Aku lelah, ingin sekali aku tertidur”. Tapi lagi dan lagi anak kecil itu tidak bisa membuka pintunya. Seperti terkunci dari dua arah, luar dan dalam. Padahal tidak ada kunci yang tergantung di lubang kuncinya. 

Suara piano berangsur-angsur makin mendekat. Anak perempuan kecil itu, dengan kaki telanjangnya yang sudah mulai kedinginan berjalan maju mendekati suara denting piano yang semakin jelas terdengar. Arahnya tepat di depannya. Tapi lorong itu semakin ia susuri, semakin dingin. Badan mungilnya sudah tidak bisa menerima hujaman angin kencing yang bak sebuah monster dingin berlari dari arah belakang dan menghujam dadanya. Tapi ia tetap berjalan sembari daun pintu demi daun pintu ia periksa, apakah bisa ia buka, apakah ada orang di dalamnya, apakah ada suara yang bisa ia dengarkan, hingga apakah ruangan itu kosong dan bisa dibuka. Tapi pada kenyataannya seluruh pintu yang ia susuri di lorong koridor gelap bercahayakan sebuah lilin itu, semuanya serempak, terkunci dan tidak bisa terbuka walau dengan dorongan kencang tubuh mungilnya.

Sampai jua ia, si anak kecil berdaster putih dengan rambut keriting sebahu tiba tepat di ujung lorong gelap. Ya, kanan kiri tubuhnya masih diapit 2 buah pintu berdaun besar nan kokoh berdiri. Setelah ia cek kedua pintu tersebut yang sudah pasti tidak bisa dibuka, pada akhirnya dia terdiam. Angin dingin yang dari awal menusuk punggung belakangnya mulai menyusup ke kanan kiri tubuhnya, ibarat seperti memecah gelombang angin di kedua sisi.

Di depannya hanya nampak ruangan luas besar berwarna hitam dengan semburat keemasan dibalik cahaya lilin. Entah itu ruangan apa. Tapi yang ia lihat hanyalah sebuah ruangan sangat besar, luas dan kosong. Tidak ada sedikitpun sebuah kehidupan, tanda-tanda suara manusia maupun alunan alat musik piano yang tadi dia dengar dari kejauhan. Tangan mungilnya tetap tidak bergeming. Dengan kedua telapak tangannya ia perlahan berjalan maju memasuki ruangan besar dan gelap itu, sembari sesekali memusatkan matanya pada ujung api lilin yang bergerak pelan ke kanan dan kiri seperti ada angin lembut meniupnya perlahan. Dia cukup khawatir bila suatu waktu api lilin itu mati dan dia terjebak di kegelapan ruang yang tidak ia kenal sama sekali.

Langkah demi langkah kaki kecilnya menyusuri ruangan itu. Maju jalan ke depan perlahan. Rasanya teramat sunyi, hatinya bergetar hebat, hingga ia tak sadarkan diri bahwa airmatanya sudah jatuh sendiri. Ia tidak takut, ia tidak takut dengan kegelapan yang menaungi dirinya. Ia hanyalah anak kecil lugu yang telah berhasil menyusuri lorong gelap dengan ribuan pintu kokoh tertutup. Degup kencang terasa di dadanya, ia bingung mau melihat kemana, kanan, kiri, atas, bawah, depan sama saja. Tapi yang tidak ia lakukan hanyalah menoleh balik ke belakang, karena baginya belakang hanyalah lorong sunyi tanpa cahaya. Suara lirih angin berhembusnya pun sudah tak jelas ia dengar.

Tanpa ia sadari, ia sudah berdiri tepat di tengah-tengah ruangan besar itu. Di atas kepalanya terdapat lampu kristal gantung berwarna putih dengan bentuk kelopak bunga sebanyak 6 buah. Di setiap kelopak lampu kristalnya terdapat bohlam lonjong sudah usang yang mulai berkedip pelan tepat saat anak kecil itu berdiri di bawahnya. Lampunya sudah sedikit usang, tapi masih menampakan kecantikannya. Hingga pelan-pelan ia dibantu oleh cahaya lampu kedip itu untuk bisa perlahan menyusuri matanya 360 derajat, memeriksa sekeliling ruangan itu dengan cepat. 

Di sisi serong kanan depan, ya ternyata ada sebuah grand piano besar berwarna hitam dengan kursi panjangnya dari bahan kulit hitam mengkilap. Diatas pianonya terdapat vas bunga berukuran sedang yang di dalamnya terisi satu buket bunga lili putih cantik yang masih mekar dan segar. Siluet pinggir piano terdapat taplak meja memanjang berwarna hitam bludru dengan pinggirannya yang keemasan.

Di sisi serong kiri depan, nampak ayunan berwarna pastel dengan berbagai warna. Pink lembut, butter yellow, hijau mint, biru muda, cokelat pasir pantai beralaskan rerumputan hijau dengan potongannya yang rapih dan bersih. Sebuah ayunan yang tidak pernah ia lihat selama hidupnya. Seperti nampak sebuah taman kecil ceria dengan warna-warnanya yang lembut. di ujung turunan ayunan tersebut, nampak seperti alas duduk sebagai dudukan akhir seluncuran, terbuat dari bahan bantal tipis dengan teksturnya berwarna cream pucat. Tidak ada motifnya, hanya bantal duduk polos yang nampak bersih.

Ia enggan menoleh ke sisi serong kanan belakang, dan sisi serong kiri belakang, karena di pikirannya, ia tahu itu hanyalah berisikan pojok gelap dengan sedikit penerangan lampu temaramnya yang kosong tidak berisi benda-benda apapun. Tubuh mungilnya hanya berdiam berdiir memaku sembari sesekali menatap cahaya lilin yang ia pegang dengan kedua tangan kecilnya. Lilinnya masih menyala, tapi tidak seterang tadi. Sudah mulai memendek seiring perjalanannya tadi menyusuri lorong yang hening.



PART 1 : MUSIM SEMI



 Part 1 : Musim Semi

Kamu tahu.... yah atau setidaknya kamu pernah mendengar sebuah istilah "bahwa apa yang kamu inginkan, bukan selalu yang kamu butuhkan".

Aku sangat setuju dengan kalimat kiasan ini. Bagiku terkadang Tuhan itu menciptakan manusia, dengan berbagai tujuan. Itulah makanya membuat masing-masing hamba-Nya dilahirkan, terlahir sesuai "peran" yang sudah Allah rancang di dunia. Itu pula makanya, apa yang 1 orang inginkan, pasti berbeda dengan keinginan orang lainnya. Hanya saja, sepengalamanku, walaupun aku menginginkan 1 hal yang menurutku, di hatiku aku inginkan hal itu, aku membutuhkan hal tersebut, ternyata Allah akan memberikan kebalikannya.

Ya, memang... terkadang aku bisa sedikit ngedumel saat apa yang aku inginkan dan aku pikir aku 'butuh', ternyata tidak diberi oleh Allah. Bisa jadi cukup lama pula aku akan menggeruti sembari tetap berdoa, tapi juga campur-aduk bingung karena tak kunjung mendapatkan apa yang aku inginkan. Sampai-sampai, ujungnya memang Allah yang menginginkan aku untuk "tidak perlu berusaha cukup berat". Santai saja, duduk diam, selami apa yang sudah aku dapatkan di tangan, toh nanti juga Allah akan beri sesuai"timing yang tepat menurut-Nya.

Hahahaha.... terdengar konyol. Dulu saat aku masih remaja, masih muda belia, ego-ku yang tidak tinggi, tapi juga tidak rendah, terkadang membuatku bersungut, "kenapa ya Tuhan.... kok nggak dikasih-kasih apa yang aku inginkan” .

Hingga pada ujungnya, walau umur akhirnya berganti angka, ya tetap tidak diberi. Karena memang ternyata (yang aku sadari sekarang), memang "perjalanan dan kisah hidupku" sudah paling cocok, paling tepat bila tidak diberi.

Kenapa?

Karena ternyata menurut Tuhan, ya memang aku yang pantas untuk tidak mendapatkannya, ya memang menurut-Nya diriku adalah hamba-Nya yang terpilih dan kuat di matanya, hingga harus melalui badai terjal curam tersebut.

Ditambah lagi, mau aku rewel pun, menggerutu, bahkan (jika) sampai aku meninggalkan Tuhan pun, ya memang aku-lah yang akan terpilih melewatinya. Karena di mata Allah... Aku sudah digariskan menjadi salah satu anak perempuan yang kuat dari sekian banyak anak-anak perempuan di seluruh muka bumi yang juga bernasib dan diberi takdir yang persis sama denganku.

Sakit sih. Sakit sekali malahan, saat apa-apa yang sangat diinginkan dan masuk ke dalam ribuan untaian doa, puluhan tahun menginginkannya, sudah memohon-mohon seperti seorang anak kecil yang amat-sangat menginginkan sepeda roda dua yang dipajang di sebuah toko sepeda, tapi pada akhirnya pun hingga ia dewasa sekali pun, sepeda itu tidak pernah ada di hadapan matanya, tidak pernah ia merasakan bentuk, lekukan, warna cantik sepeda roda dua yang teramat ia impi-impikan sejak kecil.

Hingga pada titik akhir, dia belajar pelan-pelan, dengan perlahan menurunkan impiannya, ekspektasinya, bahkan benar-benar mengubur dalam-dalam keinginannnya menginginkan sepeda roda dua itu. Bahkan lebih parahnya lagi, dia sudah di titik berdoa pada Tuhannya, ‘Ya Allah, jangan lagi berikan sepeda roda dua itu ya, Rabb. Aku sudah menua, sudah bertambah usia, kaki-kakiku sudah sangat lelah berjalan setapak demi setapak di jalanan terjalmu, aku sudah tidak kuat lagi mengayuh, jari-jemari tanganku pun nampaknya sudah lemah untuk menuntut 2 stang sepeda yang aku inginkan. Bisa jadi bila sepeda itu kau berikan sekarang, dadaku sudah sesak, nafasku sudah mulai terengah-engah, hidungku tak mampu lagi menyerap oksigen dengan optimal, terlebih lagi hatiku ini sudah tak sanggup menerimanya”.

Kini aku pasrah. Lebih dari pasrah. Sepeda itu tidak akan masuk lagi ke dalam semua harapanku, sepeda roda dua yang dulu sangat aku inginkan itu juga tidak akan masuk lagi ke dalam seluruh doa-doa baikku. Bahkan hingga ku menutup mata, aku sudah tidak mau sepeda itu lagi. Karena bagiku….. Engkau Tuhanku, sudah pernah mengecewakanku begitu sakit, hingga rasa perihnya membuatku mengucap dengan penuh keyakinan, “seandainya aku tidak dilahirkan, mungkin aku tidak akan pernah bermimpi mengayuh sepeda”. 

Dan kini aku lebih mendorong diriku untuk melepaskan semua impian. Kini sepeda itu sudah bukan tujuan hidupku. Kini sepeda itu sudah bukan bagian perjalanan hidupku, dan kini sepeda itu sudah pula bukan tujuan akhir hidupku.


Mungkin sakit, mungkin juga terasa pedih, melebihi tertusuk ribuan jarum yang menancap di sekujur tubuhku, depan, belakang, atas, bawah, kanan dan kiri. Tapi biarlah, toh luka-luka yang Tuhan sematkan, sudah menjadi sebaik-baik dan sesakit-sakitnya perjalanan sakit hidupku. 

THE IDEAL LIFE



 Ask : The Ideal Life



Jembatan Pertama

 Sehari menjelang akhir tahun. Tahun ini tidak terlalu istimewa, tidak ada hal yang besar terjadi dalam hidupku, tapi juga menjadi tahun "Sebuah pembelajaran" yang cukup istimewa.

Kali ini aku akan kembali dulu di kisahku 11 bulan yang lalu. Di tanggal 9 Januari adalah hari terakhirku mengenang tempat dimana aku tumbuh, dimana aku belajar menjadi seorang anak yang sesungguhnya. Disitu pulalah aku memulai perjalanan kehidupanku yang masih tidak tahu apa-apa hingga detik ini mengenal dunia dengan segala deru ombak ujian yang menyertai.

Aku disini tidak akan mengupas kembali luka, duka dan trauma yang membuat hidupku babak-belur dengan hujaman airmata, tapi disini aku ingin bercerita bahwa pada akhirnya di usiaku kepala 4, aku mendapat (lagi) 1 pelajaran baru, yaitu : "sebaik-baiknya manusia saat hidup, saat sudah meninggalkan dunia (wafat) maka yang akan orang-orang (yang masih hidup) kenang adalah : bagaimana kamu memperlakukan mereka".

Pembicaraan demi pembicaraan, satu-satu akhirnya terlepas dari orang-orang yang pernah mengenalmu, mengenalnya saat masih hidup. Entah itu kisah kebaikannya, pertemuannya, hingga kesan dan wasilah yang tertinggal di dunia.

Bagiku, yang telah dan pernah menjadi sang anak perempuan, sang wanita dewasa, sang adik, sang kakak, dan menjadi sang istri, yang aku lakukan, aku perbuat di dunia sama-sekali hanya kosong bagi sebagian orang yang bertemu dan hidup berdampingan denganku. Sedangkan (kelak) nanti yang akan aku tinggalkan, yang akan aku lepaskan dan aku wasilahkan semasa hidupku untuk orang-orang yang aku tinggalkan, itulah yang akan berbekas di kehidupan mereka. di memory mereka, di perjalanan kehidupan mereka.

Aku.... bukanlah anak yang bisa dibilang anak sholehah, tapi aku juga termasuk anak yang baik. Semasa hidupku, amat-sangat sedikit aku membantah perkataan, ucapan, perintah dari orangtuaku yang hanya satu-satunya aku miliki yaitu Papa.

Bagiku kala itu, hidup dengan tanpa dekapan ibu, cukup membuatku berat menjalani hari-hariku hingga detik ini aku masih bernafas.

Anak-anak lain atau katakanlah orang-orang yang berasal dari keluarga cemara, mereka memandangku sebagai wanita dewasa yang aneh, berbeda, kaku, tertutup (introvert), cukup sulit ditebak, tidak siap akan hal yang mendadak, tidak normal dan banyak lagi penyebutan istilah yang menempel di pembawaan diriku yang sesungguhnya. Oh tentu saja, dan karakterku yang cinta kebersihan serta kerapihan grade A+ sudah menjadi cerminan sejati diriku ini.

Andai mereka tahu, memang aku merasa sejak kecil aku sudah aneh, aku sudah berbeda, aku sudah memiliki "isi kepala" yang tidak sama dengan orang-orang dan atau anak-anak normal kebanyakan.

Karena Ya! Aku sendiri memang menyadari, bahwa aku berbeda sejak aku ditinggal Mama meninggal dunia untuk selamanya. Sejak dunia seakan memaksaku merubah diriku dari seorang anak manis, menjadi anak penyendiri yang menekan segala emosi, tekanan, keinginan, kebutuhan, hingga yang terpenting aku menjadi anak yang "dibentuk" menjadi semuanya bisa di handle sendiri!.

Bukan aku yang meminta, tapi diriku pada akhirnya terbentuk sedemikian rupa menjadi anak perempuan yang mencetak secara otomatis kemampuan "Survival Mode". Karena pada akhirnya fase-fase perjalanan hidupku-lah yang mengajakku bermain ular tangga kehidupan yang tidak seindah perjalanan anak-anak kebanyakan. Ohhh… jangan ditanya seperti apa, tapi jika dipaksa, akan aku sebutkan beberapa contoh 'peristiwa' dimana Tuhan suka sekali bermain denganku sejak aku kecil.

Nanti, di bagian berikutnya, akan aku tuliskan apa saja hal yang Tuhan turunkan padaku hingga membuatku menjadi 'anak yang berbeda" di mata orang lain. Tapi ingat, bukan berbeda dalam hal "bisa melihat halusinasi / makhluk halus ya" hahahaa.... itu sih, sudah dipastikan aku juga tidak akan mau.


MERANCANG REUNI KELUARGA DI SURGA

Saturday, June 20, 2026




Rangkuman Kajian MT. Muslimah Masjid Raya Kebayoran Residence.

Tema : Merancang Reuni Keluarga di Surga

Oleh : Ustadz Oemar Mita

Rabu, 18 Juni 2026

بسم الله الرحمن الرحيم

أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه 

 وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.


Banyak sekali ilmu yang kita dapatkan & peroleh tapi tidak mampu mendekatkan diri kita kepada Allah & tidak mampu melapangkan hati orang di sekitar kita. 

Orang yang berilmu & orang yang menuntut kebenaran adalah orang yang senantiasa mampu melapangkan hati orang di sekitarnya. 

Semoga kita mendapatkan keberkahan dari setiap ilmu yang kita peroleh & kita dapatkan.


Syukur saat kita dalam kondisi lapang itu adalah istimewa & syukur dalam kondisi sulit itu adalah karunia besar.

Bersyukur itu menjadikan hati kita tetap tenang & bersyukur itu menjadikan hati kita dekat sekali dengan pertolongan Allah. 

Hari ini teori makro & mikro bisa merumuskan angka tapi mereka tidak bisa merumuskan pertolongan. Karena Pertolongan itu hanya milik Allah. Pertolongan itu merupakan Algoritma yang di genggam Allah & diberikan kepada hamba yang dikehendaki.

Siapapun yang bersabar maka Allah memberikan pertolongan. dan siapapun yang dia bersyukur maka Allah pun memberikan pertolongan.

Kita jangan fokus terhadap angka karena orang beriman adalah bukan kapitalis & bukan materialis karena kita adalah orang beriman yang yakin akan pertolongan Allah selalu ada dalam setiap perkara. Yang kita butuhkan itu adalah pertolongan dalam kehidupan kita karena dengan pertolongan itulah kita mendapat kekuatan yang tidak pernah sama dengan kekuatan yang diberikan oleh angka, data & finansial

Kita jangan menjadi orang yang sekularisme & materialisme. Yang ketika melihat uang dinilai dengan angka tetapi kita tidak melihat sesuatu dari pertolongan Allah. Pertolongan itu tidak Allah berikan kecuali kepada hamba-hambanya yang bersyukur. 


Pertolongan Allah itu nyata, dan pertolongan itu Allah berikan ke hambanya yang senantiasa bersyukur & bersabar disetiap jalan kehidupan.


Kita harus menata kesyukuran dalam kehidupan yang dijalani. Orang akan bersyukur kalau memiliki keridhoan. Siapapun yang ridho dia mudah bersabar. siapapun yang ridho dia akan mudah bersyukur.

Sesungguhnya Ridho adalah kunci. Dan Syukur itu adalah pintunya. Dan kunci itu akan bisa terbuka sampai kita menata keridhoan pada hati kita. Saatnya terkadang tidak memperhatikan pada apa yang terjadi tetapi fokus pada meminta pertolongan Allah. Karena selama kita mendapat pertolongan dari Allah semuanya akan baik2 saja. Masalah kita & keluarga selama mendapat pertolongan dari Allah maka semuanya akan baik-baik saja. semuanya kembali kepada pertolongan Allah. semoga kita tidak menjadi sekuler dalam perjalanan hidup kita. Apapun yang terjadi pasti ada akibat dari apa yang pernah kita perbuat. 


Orang yang beriman adalah orang tidak pernah kehabisan alasan untuk bersyukur kepada Allah. 

Bersyukur itu tidak memberikan syarat. 

Doa Nabi Sulaiman dalam Al Qur’an berisi permohonan agar selalu mampu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah :


‎رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ 


Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.

(QS. An Naml : 19)

Pentingnya keluarga dalam kehidupan kita sebagai orang beriman merupakan sesuatu kita sadari. kita boleh kecewa dengan keluarga kita tetapi keluarga itu merupakan komponen penting dalam kehidupan kita. Dan "sesungguhnya tidak ada ikatan yang paling kuat kecuali ikatan kita bersama keluarga".


Inilah yang menjadi kita paham kenapa Para Nabi di perintahkan menikah oleh Allah ? supaya mereka memiliki keluarga. karena support system terbaik itu ada pada keluarga. 

Kalau saja para nabi tidak diperintahkan oleh Allah untuk menikah, kita tidak bisa mengambil gambaran & pelajaran dari kisah2 mereka. Para Nabi & Orang2 sholih disuruh menikah oleh Allah, agar bisa membangun support system terbaik dalam kehidupan yaitu keluarga. Ikatan yang tidak pernah terputus adalah ikatan kita bersama keluarga kita tercinta. 


Ketika seseorang akan meninggal atau dicabut rohnya para malaikat datang secara rombongan & mereka duduk sepanjang mata memandang kepada orang yang mau dicabut rohnya. menjemput untuk kita pulang., hal ini di sampaikan dalam surah Al Fajr.


وَّجَاۤءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ (٢٢)


dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,

(Q.S. Al-Fajr ayat 22)


Ada 14 terminal yang kita lalui sebelum diputuskan apakah kita masuk neraka atau surga. 

Hubungan keluarga adalah bukan hanya hubungan biologis tetapi akan bersambung ke akhirat. 


Perkataan terakhir Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebelum wafat adalah doa: 


Allahummaghfirli warhamni, wa alhiqni bir-rafiiqil a'la


Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi. Beliau mengucapkan kalimat ini sambil mengangkat tangannya


Keluarga itu Indah, yang menjadi tidak indah itu adalah karena kurang sabar & kurang syukurnya. 

Pentingnya keteladanan dan timbal balik dalam keluarga. Ketika orang tua dan pasangan saling menjadi tempat bernaung yang aman, anak-anak akan meniru kehangatan tersebut, sehingga tercipta keluarga yang Qurrata A'yun (penyejuk hati dan pandangan).


  • Suasana rumah yang penuh kasih sayang, penerimaan, dan komunikasi terbuka membuat anggota keluarga selalu rindu untuk pulang. 
  • Saat orang tua mencontohkan kelembutan, ibadah yang baik, dan akhlak mulia, anak akan tumbuh meneladani nilai-nilai tersebut. 
  • Memohon kepada Allah SWT agar keluarga dianugerahi ketentraman dan menjadi penyejuk hati, seperti yang tercantum dalam Surah Al-Furqan ayat 74:


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا (٧٤)


"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon : 74)


Allah menjadi kan keluarga menjadi tidak sempurna untuk menjadi ujian buat setiap keluarga

Para Nabi pun dalam keluarga mendapat ujian. contoh Nabi Nuh & Nabi Luth (di uji dengan isterinya), Nabi Ibrahim diuji oleh Bapaknya (Azar) karena berbuat kesyirikan. Nabi Muhammad di uji oleh pamannya. dll 


Apabila seseorang bisa melewati ujian dalam keluarga. Allah Subhana Wata’ala berfirman. 


اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ (٧٠)


Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.”

(Q.S. Az-Zukhruf ayat 70)


Mari kita memandang urusan keluarga kita itu bukan hanya sebatas hubungan cinta & biologis. Urusan keluarga itu adalah tentang *Ikhsan*.


*Dikisahkan dari Umar bin Khattab :*

Pernah ada seorang laki-laki yang datang kepada Khalifah Umar bin Khattab dengan niat menceraikan istrinya karena ia merasa tidak lagi mencintainya. 

Mendengar hal itu, Sayyidina Umar melarangnya dan memberikan nasihat yang tegas.


“Celakalah kamu! Apakah setiap rumah tangga itu harus dibangun di atas dasar rasa cinta? Di mana letak tanggung jawab dan kesetiaan?!”

Umar bin Khattab mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar tentang cinta, melainkan tentang komitmen, rasa tanggung jawab, dan saling menjaga kehormatan.


Siapapun yang di uji oleh suaminya maka dia mendapatkan pahala spt Bunda Asiyah yang diabadikan doa nya dalam Al Qur’an surah At Tahrim ayat 11 Doa nya yaitu :


رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ


Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.


Siapapun yang di uji oleh isterinya maka dia mendapatkan pahala sepeti Nabi Nuh.


Orang baik adalah orang yang membalas kejahatan dengan kebaikan.

Konsep orang beriman dalam keluarga adalah Sehidup Sesurga


Kegiatan penghuni kubur adalah :

  1. Tidur sebagaimana tidurnya orang pengantin.
  2. Mengunjungi keluarganya dalam kubur 
  3. Menyambut Roh keluarga yang baru datang karena orang meninggal ada barkzah (pembatas antara kehidupan orang yang hidup & orang yang sudah meninggal) 


Allah Subhana Wata’ala berfirman :


لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ (١٠٠)

agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.

(Q.S. Al-Mu'minun ayat 100)


Malaikat saja tidak punya keluarga memintakan doa kepada Allah untuk orang-orang beriman. 


رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنّٰتِ عَدْنِ ِۨالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ (٨)


"Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana".

(Q.S. Gafir ayat 8)


Salah satu Indikator kebahagiaan yaitu bahagia bersama keluarga & traveling bersama keluarga.


Pepatah : Dunia itu indah ketika kita belum memiliki, tetapi kalau sudah memiliki maka itu akan terasa biasa.


Keluarga dalam kehidupan dunia & akhirat, Allah membagi menjadi 4 kategori yaitu :


  1. Keluarga yang bertemu di dunia tetapi tidak dipertemukan di akhirat. karena Perbuatan Syirik kepada Allah. Pertemuan di akhirat mempunyai syarat yaitu kebaikan & kebenaran. Perumpamaan ketika di akhirat, untuk kita masing2 menyelamat kan diri sendiri. Allah Subhana Wata’ala berfirman 


يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ (١١)


sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya, 

(Q.S. Al-Ma'arij ayat 11)


وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ (١٢)


dan istrinya dan saudaranya, 

(Q.S. Al-Ma'arij ayat 12)


وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ (١٣)


dan keluarga yang melindunginya (di dunia),

(Q.S. Al-Ma'arij ayat 13)


وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ (١٤)


dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.

(Q.S. Al-Ma'arij ayat 14)


  1. Syarat pertemuan di akhirat adalah iman.
  2. Dalam mendidik anak Maka fokuslah pada Aqidah & Tauhid.
  3. Salah satu permintaan kita kepada Allah adalah meminta agar Aqidah kita kuat (tidak berbuat syirik).
  4. Pentingnya membangun connecting sebelum melakukan koreksi. 


2. Keluarga yang tidak pernah bertemu di dunia tetapi mereka sama-sama beriman, maka pada hari kiamat Allah akan pertemukan nya di surga.

kenikmatan di surga adalah salah satunya bisa saling menarik pasangan / anak ke derajat tertinggi (tingkatan dalam surga)


وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ (٢١)


Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. 

(Q.S. At-Tur ayat 21)


اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ (٧٠)


Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.”

(Q.S. Az-Zukhruf ayat 70)


Nikmat tertinggi di surga adalah :

- Bisa melihat wajah Allah

- Bisa bertetangga dengan nabi

- Bisa dilayani oleh bidadari2 surga

- Bisa melihat peristiwa2 kejadian di neraka.


3. Keluarga atau kerabat bertemu di dunia tetapi bertengkar di akhirat.


اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَۗ ࣖ (٦٧)


Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.

(Q.S. Az-Zukhruf ayat 67)


Nilai tawakkal kita kepada keluarga untuk mendapatkan hidayah adalah dengan melangitkan doa-doa dalam setiap ibadah kita 


Musibah seseorang bisa menjadi pelajaran buat kita


4. Keluarga yang Bertemu di dunia & bertemu di akhirat.


وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ (٢١)


Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. 

(Q.S. At-Tur ayat 21)


وَاَمْدَدْنٰهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَّلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَ (٢٢)


Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. 

(Q.S. At-Tur ayat 22)


يَتَنَازَعُوْنَ فِيْهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيْهَا وَلَا تَأْثِيْمٌ (٢٣)


(Di dalam surga itu) mereka saling mengulurkan gelas yang isinya tidak (menimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa. 

(Q.S. At-Tur ayat 23)


۞ وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَاَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُوْنٌۚ (٢٤)


Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan. 

(Q.S. At-Tur ayat 24)


وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ (٢٥)


Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain saling bertegur sapa. 

(Q.S. At-Tur ayat 25)


قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ (٢٦)


Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). 

(Q.S. At-Tur ayat 26)


Pernikahan tidak untuk kebahagian tetapi pernikahan untuk keberkahan.

Prinsip orang beriman dalam menbangun keluarga adalah bukan Sehidup Semati tetapi Sehidup Sesurga 


Wallahuallam biswohab.

Custom Post Signature

Custom Post Signature